DABASAH, Bondowoso – Rencana reaktivasi jalur kereta api Jember–Panarukan mulai menemukan titik terang. Jalur legendaris yang sempat mati puluhan tahun ini akan dihidupkan kembali, dengan Bondowoso menjadi salah satu wilayah kunci. Meski menjanjikan peluang ekonomi dan konektivitas, proyek ini menghadapi tantangan besar, mulai dari lahan yang berubah menjadi pemukiman hingga kesiapan anggaran pemerintah daerah.
Rencana pengaktifan kembali jalur ini masuk dalam agenda besar pemerintah melalui Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) dan Renstra Dirjen Perkeretaapian Kemenhub. Pendataan awal ditargetkan mulai pada 2026, sementara segmen Kalisat–Panarukan direncanakan beroperasi kembali pada 2030.
Namun, jalan menuju reaktivasi tidak semulus rel yang diimpikan. Wilayah Bondowoso menghadapi persoalan serius karena banyak permukiman kini berdiri di atas trase lama.
Pengamat transportasi dan dosen Teknik Sipil Universitas Jember, Sonya Sulistyono, menilai sterilisasi lahan menjadi pekerjaan paling berat. Banyak bantaran rel lama telah berubah menjadi pemukiman permanen, tempat usaha, hingga fasilitas sosial.
“Dibutuhkan pemetaan rinci, kepastian hukum, dan skema kompensasi yang adil,” ujarnya. Sonya menekankan, proses pengosongan harus melalui mekanisme pengadaan tanah untuk kepentingan umum. Pengalaman jalur Garut–Cibatu menunjukkan bahwa sengketa lahan dan resistensi warga dapat memakan waktu lama.
Selain itu, trase lama kini tertutup bangunan, kabel, dan pipa bawah tanah. “Perlu penyelarasan ulang trase, pelebaran terbatas, atau bahkan elevasi. Konsekuensinya, biaya dan studi desain akan meningkat,” jelasnya.
Meski penuh tantangan, Sonya menilai proyek ini layak diperjuangkan. Reaktivasi rel tidak hanya menghidupkan kembali sejarah transportasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi wilayah pegunungan seperti Bondowoso.










Leave a Reply